Pemerintah mengusulkan kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi dan tarif dasar listrik diberlakukan serempak pada 1 April mendatang. Harga bahan bakar jenis premium dan solar naik menjadi Rp 6.000 dari Rp 4.500 per liter, sedangkan tarif listrik akan naik secara bertahap, 3 persen setiap triwulan.
Dalam draf usulan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2012, pemerintah mengusulkan kenaikan subsidi BBM dari Rp 123,5 triliun menjadi Rp 137,3 triliun. Adapun subsidi listrik membengkak menjadi Rp 90 triliun dari Rp 44,9 triliun.
Usul ini selanjutnya akan dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat untuk disetujui atau tidak. Menurut Menteri Keuangan Agus Martowardojo, usul pembahasan anggaran perubahan diharapkan rampung Maret ini. Dengan demikian, kenaikan harga BBM dan tarif listrik mulai diberlakukan bulan depan.
Agus optimistis usul pemerintah akan disetujui DPR dan pembahasan anggaran perubahan juga cepat beres. "Sebab, dari aspek anggaran, kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrik sangat dibutuhkan," ujarnya di gedung DPR, Selasa, 6 Maret 2012.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik menyatakan kenaikan harga BBM Rp 1.500 per liter lebih mudah diberlakukan dibanding opsi lain. Dia beralasan, "Naik Rp 1.500 sudah pernah ditempuh. Jadi ini lebih praktis."
Dalam draf usulan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2012, pemerintah mengusulkan kenaikan subsidi BBM dari Rp 123,5 triliun menjadi Rp 137,3 triliun. Adapun subsidi listrik membengkak menjadi Rp 90 triliun dari Rp 44,9 triliun.
Usul ini selanjutnya akan dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat untuk disetujui atau tidak. Menurut Menteri Keuangan Agus Martowardojo, usul pembahasan anggaran perubahan diharapkan rampung Maret ini. Dengan demikian, kenaikan harga BBM dan tarif listrik mulai diberlakukan bulan depan.
Agus optimistis usul pemerintah akan disetujui DPR dan pembahasan anggaran perubahan juga cepat beres. "Sebab, dari aspek anggaran, kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrik sangat dibutuhkan," ujarnya di gedung DPR, Selasa, 6 Maret 2012.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik menyatakan kenaikan harga BBM Rp 1.500 per liter lebih mudah diberlakukan dibanding opsi lain. Dia beralasan, "Naik Rp 1.500 sudah pernah ditempuh. Jadi ini lebih praktis."
Tarif Angkutan Umum Bakal Naik
Sementara itu, pemerintah bakal memberikan kompensasi Rp 30,6 triliun atas kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi yang berlaku April mendatang. Draf Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2012 menyebutkan Rp 25,6 triliun untuk program Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada keluarga miskin dan Rp 5 triliun untuk angkutan umum. Kompensasi ini diberikan atas kenaikan harga solar dan premium menjadi Rp 6.000 mulai 1 April mendatang.
Kompensasi pada sektor angkutan publik bertujuan agar tarif angkutan tetap bisa terjangkau oleh masyarakat. Pola pemberian kompensasi melalui penambahan Public Service Obligation (PSO) untuk angkutan umum kelas ekonomi, penumpang dan barang, serta kompensasi terhadap kenaikan biaya tidak langsung angkutan umum perkotaan. Lamanya kompensasi terhitung 9 bulan mulai April mendatang.
Sebelumnya Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan BLT diberikan sebesar Rp 150 ribu kepada 18,5 juta rumah tangga ekonomi terbawah. Bantuan juga diberikan selama 9 bulan. Menteri Agung mengakui belum menentukan model pemberian dana BLT akan diberikan per bulan atau per tiga bulan. "Pembayarannya dari Kantor Pos," katanya.
Besaran BLT tahun ini lebih besar ketimbang BLT sebelumnya sebesar Rp 100.000 per bulan. Menurut Agung, BLT bertujuan menekan angka kemiskinan. Jika tidak ada kompensasi angka kemiskinan akan meningkat 1,5 persen.
Usulan kompensasi bentuk BLT bakal menemui jalan terjal pada saat pembahasan RAPBN Perubahan 2012 di Dewan perwakilan Rakyat. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Harry Azhar Azis langsung menolak bentuk kompensasi itu. "Kami tidak setuju BLT," katanya. Harry yang juga Wakil Ketua Komisi Keuangan DPR menilai kompensasi sebaiknya untuk pembangunan infrastruktur. "Untuk mencapai target pertumbuhan," ujarnya.
Sumber Tempo di salah satu partai koalisi pemerintah menyebutkan mayoritas partai politik tidak setuju adanya BLT karena rawan dipolitisasi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan kroni politiknya termasuk Partai Demokrat. Politisasi BLT bertujuan untuk meraup suara pada pemilihan umum 2014.
Belajar dari kasus kenaikan harga BBM pada 2005 dan 2008 kompensasi berupa BLT, kata sumber Tempo, menguntungkan Partai Demokrat dan SBY secara politik. "Kami tidak mau seperti," katanya. Presiden SBY dan Partai Demokrat diminta fair dalam mengusung kenaikan harga BBM dengan tidak mempolitisasi program BLT. "Kami setuju kenaikan, tapi tidak dengan kompensasi BLT," katanya.
Kompensasi pada sektor angkutan publik bertujuan agar tarif angkutan tetap bisa terjangkau oleh masyarakat. Pola pemberian kompensasi melalui penambahan Public Service Obligation (PSO) untuk angkutan umum kelas ekonomi, penumpang dan barang, serta kompensasi terhadap kenaikan biaya tidak langsung angkutan umum perkotaan. Lamanya kompensasi terhitung 9 bulan mulai April mendatang.
Sebelumnya Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan BLT diberikan sebesar Rp 150 ribu kepada 18,5 juta rumah tangga ekonomi terbawah. Bantuan juga diberikan selama 9 bulan. Menteri Agung mengakui belum menentukan model pemberian dana BLT akan diberikan per bulan atau per tiga bulan. "Pembayarannya dari Kantor Pos," katanya.
Besaran BLT tahun ini lebih besar ketimbang BLT sebelumnya sebesar Rp 100.000 per bulan. Menurut Agung, BLT bertujuan menekan angka kemiskinan. Jika tidak ada kompensasi angka kemiskinan akan meningkat 1,5 persen.
Usulan kompensasi bentuk BLT bakal menemui jalan terjal pada saat pembahasan RAPBN Perubahan 2012 di Dewan perwakilan Rakyat. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Harry Azhar Azis langsung menolak bentuk kompensasi itu. "Kami tidak setuju BLT," katanya. Harry yang juga Wakil Ketua Komisi Keuangan DPR menilai kompensasi sebaiknya untuk pembangunan infrastruktur. "Untuk mencapai target pertumbuhan," ujarnya.
Sumber Tempo di salah satu partai koalisi pemerintah menyebutkan mayoritas partai politik tidak setuju adanya BLT karena rawan dipolitisasi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan kroni politiknya termasuk Partai Demokrat. Politisasi BLT bertujuan untuk meraup suara pada pemilihan umum 2014.
Belajar dari kasus kenaikan harga BBM pada 2005 dan 2008 kompensasi berupa BLT, kata sumber Tempo, menguntungkan Partai Demokrat dan SBY secara politik. "Kami tidak mau seperti," katanya. Presiden SBY dan Partai Demokrat diminta fair dalam mengusung kenaikan harga BBM dengan tidak mempolitisasi program BLT. "Kami setuju kenaikan, tapi tidak dengan kompensasi BLT," katanya.
Harga Barang Bakal Naik 20 Persen
Kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi dan tarif dasar listrik bakal mendorong kenaikan sejumlah harga barang dan jasa. Juru bicara PT Carrefour Indonesia, Satria Hamid, memperkirakan harga barang konsumsi naik rata-rata 20 persen.
Produk dengan mobilitas tinggi, seperti makanan dan minuman, kata dia, lebih mudah terpengaruh dibanding komoditas lainnya. Contohnya, sayur, buah, ikan, dan daging. "Produk-produk fresh ini harganya paling mudah berubah," ujarnya, Selasa 6 Maret 2012.
Satria menjelaskan ada dua faktor yang mempengaruhi perubahan harga barang di tingkat peretail, yakni harga dari pemasok dan biaya distribusi yang ditanggung. "Ada beberapa barang yang didistribusikan dari gudang. Ini akan mempengaruhi harga." Dia memprediksi harga mulai terkoreksi setelah tiga atau lima hari setelah kenaikan harga BBM dan listrik.
Ketua Organisasi Angkutan Darat DKI Jakarta Sudirman mengatakan tarif angkutan umum bakal naik sekitar 30 persen. Kenaikan harga BBM dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 per liter akan memicu kenaikan tarif angkutan.
Menurut dia, kenaikan itu juga memperhitungkan harga suku cadang, biaya perawatan, biaya hidup sopir, dan biaya lain yang pasti ikut melonjak. "Tarif baru akan berlaku untuk semua moda angkutan umum, mulai bus, angkutan kota, hingga taksi," ujar Sudirman.
Ancang-ancang kenaikan tarif juga ditempuh pengusaha hotel dan restoran. Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Yanti Sukamdani, biaya listrik memiliki porsi 75 persen dari total biaya energi. Adapun biaya energi memiliki porsi 40 persen dari total biaya produksi. "Cukup tinggi," ujarnya.
Kalangan industri sepeda motor khawatir dampak kenaikan akan mempengaruhi penjualan. Wakil Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia Johannes Loman menyatakan, selama kenaikan harga bahan bakar tidak lebih dari Rp 1.000, penjualan produknya tidak akan mengalami guncangan berlebihan. "Kalau naiknya di atas Rp 1.000, dampaknya pasti besar," ucapnya.
Potensi penjualan sepeda motor menjadi turun, kata dia, bila kenaikan harga BBM diikuti kenaikan harga atau tarif lainnya. "Penjualan sepeda motor akan terkena dampak. Penjualan akan turun," ujar Johannes.
Di Malang, Jawa Timur, harga sejumlah bahan kebutuhan pokok sudah naik. "Harga sembako naik dulu, sebelum harga BBM naik," kata pedagang bahan pokok di Pasar Induk Gadang, Hari Santoso.
Dia menyebutkan harga gula dari Rp 9.800 menjadi Rp 10.500 per kilogram; minyak goreng naik menjadi Rp 10 ribu dari Rp 9.500 per kg; dan beras medium yang sebelumnya Rp 7.800 per kg, kini dibanderol Rp 8.200 per kg. Menurut Hari, kenaikan harga di tingkat distributor terjadi sejak pekan lalu.
Produk dengan mobilitas tinggi, seperti makanan dan minuman, kata dia, lebih mudah terpengaruh dibanding komoditas lainnya. Contohnya, sayur, buah, ikan, dan daging. "Produk-produk fresh ini harganya paling mudah berubah," ujarnya, Selasa 6 Maret 2012.
Satria menjelaskan ada dua faktor yang mempengaruhi perubahan harga barang di tingkat peretail, yakni harga dari pemasok dan biaya distribusi yang ditanggung. "Ada beberapa barang yang didistribusikan dari gudang. Ini akan mempengaruhi harga." Dia memprediksi harga mulai terkoreksi setelah tiga atau lima hari setelah kenaikan harga BBM dan listrik.
Ketua Organisasi Angkutan Darat DKI Jakarta Sudirman mengatakan tarif angkutan umum bakal naik sekitar 30 persen. Kenaikan harga BBM dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 per liter akan memicu kenaikan tarif angkutan.
Menurut dia, kenaikan itu juga memperhitungkan harga suku cadang, biaya perawatan, biaya hidup sopir, dan biaya lain yang pasti ikut melonjak. "Tarif baru akan berlaku untuk semua moda angkutan umum, mulai bus, angkutan kota, hingga taksi," ujar Sudirman.
Ancang-ancang kenaikan tarif juga ditempuh pengusaha hotel dan restoran. Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Yanti Sukamdani, biaya listrik memiliki porsi 75 persen dari total biaya energi. Adapun biaya energi memiliki porsi 40 persen dari total biaya produksi. "Cukup tinggi," ujarnya.
Kalangan industri sepeda motor khawatir dampak kenaikan akan mempengaruhi penjualan. Wakil Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia Johannes Loman menyatakan, selama kenaikan harga bahan bakar tidak lebih dari Rp 1.000, penjualan produknya tidak akan mengalami guncangan berlebihan. "Kalau naiknya di atas Rp 1.000, dampaknya pasti besar," ucapnya.
Potensi penjualan sepeda motor menjadi turun, kata dia, bila kenaikan harga BBM diikuti kenaikan harga atau tarif lainnya. "Penjualan sepeda motor akan terkena dampak. Penjualan akan turun," ujar Johannes.
Di Malang, Jawa Timur, harga sejumlah bahan kebutuhan pokok sudah naik. "Harga sembako naik dulu, sebelum harga BBM naik," kata pedagang bahan pokok di Pasar Induk Gadang, Hari Santoso.
Dia menyebutkan harga gula dari Rp 9.800 menjadi Rp 10.500 per kilogram; minyak goreng naik menjadi Rp 10 ribu dari Rp 9.500 per kg; dan beras medium yang sebelumnya Rp 7.800 per kg, kini dibanderol Rp 8.200 per kg. Menurut Hari, kenaikan harga di tingkat distributor terjadi sejak pekan lalu.
Subsidi BBM, Utang Negara Semakin Melangit
Pemerintah berencana menambah utang Rp 25-50 triliun melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Tambahan utang ini untuk menutup defisit anggaran yang membengkak menjadi 2,4 persen dari 1,5 persen yang ditargetkan dalam anggaran.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, secara bruto, porsi pembiayaan dari SBN mencapai Rp 300 triliun. "Setengahnya untuk memperpanjang SBN yang jatuh tempo tahun ini," ujarnya, Senin, 5 Maret 2012 kemarin. Jumlah ini lebih tinggi dibanding target bruto sebelumnya, Rp 212,75 triliun. Dengan demikian, total SBN netto mencapai Rp 159,5-184,5 triliun.
Penambahan utang terkait dengan pembengkakan defisit anggaran akibat lonjakan subsidi menyangkut kenaikan harga minyak mentah dunia. Menurut perkiraan pemerintah, subsidi bahan bakar bakal membengkak Rp 55 triliun dari Rp 123 triliun. Jumlah ini masih ditambah kenaikan subsidi listrik Rp 53 triliun dari Rp 40,7 triliun.
Agus menambahkan, jika pemerintah tidak mempercepat pengajuan perubahan anggaran pendapatan dan belanja negara, pembiayaan akan membengkak hingga Rp 130 triliun. "Dengan menaikkan harga bahan bakar dan memangkas belanja kementerian/lembaga, postur APBN dapat diamankan," ujarnya. Sebelumnya, pemerintah menargetkan pemangkasan anggaran kementerian dan lembaga minimal Rp 18,8 triliun serta maksimal Rp 22 triliun.
Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menyatakan inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar tak akan menekan nilai rupiah dan mendorong kenaikan suku bunga acuan (BI Rate). "Tekanan ke rupiah tidak hanya disebabkan oleh satu faktor," ujarnya, Senin, 5 Maret 2012 kemarin.
Pengaruh inflasi bisa diatasi dengan berbagai kebijakan setelah harga BBM naik. Namun kebijakan apa yang bakal dilakukan, Darmin menolak memberikan penjelasan. Bank sentral, kata dia, masih menghitung tambahan inflasi akibat kenaikan harga BBM.
Menurut Darmin, Inflasi akibat kenaikan harga BBM tak akan otomatis menaikkan BI Rate dan suku bunga dasar kredit. "Belum tentu, jangan terlalu pesimistis."
Juru bicara Bank Indonesia, Diffi A. Johansyah, mengatakan inflasi yang disebabkan oleh administered price, seperti kenaikan harga BBM, hanya berlangsung sekali. Efeknya pun hanya berlangsung dalam jangka pendek. Menurut dia, BI Rate baru akan terpengaruh oleh inflasi yang berlangsung dalam jangka panjang.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Yanti Sukamdani mengatakan kenaikan harga BBM dan listrik bakal menaikkan biaya produksi hotel dan restoran. "Efek berikutnya pasti ke tarif," ujarnya.
Yanti menjelaskan biaya energi seperti listrik memiliki porsi 75 persen dari total biaya energi. Sementara itu, biaya energi memiliki porsi 40 persen dari total biaya produksi. Kenaikan harga BBM akan menaikkan biaya transportasi dan energi untuk genset. Meski begitu, Yanti belum tahu berapa besar kenaikan tarif akibat kebijakan tersebut nantinya. (IRIB Indonesia/Tempo/RA)
Penambahan utang terkait dengan pembengkakan defisit anggaran akibat lonjakan subsidi menyangkut kenaikan harga minyak mentah dunia. Menurut perkiraan pemerintah, subsidi bahan bakar bakal membengkak Rp 55 triliun dari Rp 123 triliun. Jumlah ini masih ditambah kenaikan subsidi listrik Rp 53 triliun dari Rp 40,7 triliun.
Agus menambahkan, jika pemerintah tidak mempercepat pengajuan perubahan anggaran pendapatan dan belanja negara, pembiayaan akan membengkak hingga Rp 130 triliun. "Dengan menaikkan harga bahan bakar dan memangkas belanja kementerian/lembaga, postur APBN dapat diamankan," ujarnya. Sebelumnya, pemerintah menargetkan pemangkasan anggaran kementerian dan lembaga minimal Rp 18,8 triliun serta maksimal Rp 22 triliun.
Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menyatakan inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar tak akan menekan nilai rupiah dan mendorong kenaikan suku bunga acuan (BI Rate). "Tekanan ke rupiah tidak hanya disebabkan oleh satu faktor," ujarnya, Senin, 5 Maret 2012 kemarin.
Pengaruh inflasi bisa diatasi dengan berbagai kebijakan setelah harga BBM naik. Namun kebijakan apa yang bakal dilakukan, Darmin menolak memberikan penjelasan. Bank sentral, kata dia, masih menghitung tambahan inflasi akibat kenaikan harga BBM.
Menurut Darmin, Inflasi akibat kenaikan harga BBM tak akan otomatis menaikkan BI Rate dan suku bunga dasar kredit. "Belum tentu, jangan terlalu pesimistis."
Juru bicara Bank Indonesia, Diffi A. Johansyah, mengatakan inflasi yang disebabkan oleh administered price, seperti kenaikan harga BBM, hanya berlangsung sekali. Efeknya pun hanya berlangsung dalam jangka pendek. Menurut dia, BI Rate baru akan terpengaruh oleh inflasi yang berlangsung dalam jangka panjang.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Yanti Sukamdani mengatakan kenaikan harga BBM dan listrik bakal menaikkan biaya produksi hotel dan restoran. "Efek berikutnya pasti ke tarif," ujarnya.
Yanti menjelaskan biaya energi seperti listrik memiliki porsi 75 persen dari total biaya energi. Sementara itu, biaya energi memiliki porsi 40 persen dari total biaya produksi. Kenaikan harga BBM akan menaikkan biaya transportasi dan energi untuk genset. Meski begitu, Yanti belum tahu berapa besar kenaikan tarif akibat kebijakan tersebut nantinya. (IRIB Indonesia/Tempo/RA)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar