Kamis, 08 Maret 2012

Israel dan Referendum Sebelum Serangan ke Iran


Rezim Zionis Israel dalam beberapa waktu terakhir rajin menebar ancaman serangan militer ke Iran dan bahkan para pejabat Tel Aviv mengesankan rencana serangan tersebut seakan operasi militer anti-Iran itu bukan hal yang sulit bagi militer Zionis.
 
Akan tetapi koran Haaretz terbitan Tel Aviv, dalam laporannya justru mengimbau para pejabat Israel untuk tidak menganggap enteng masalah ini. Koran itu bahkan meminta pemerintah Zionis menggelar referendum sebelum mengambil keputusan soal Republik Islam.
 
Fars News (8/3) melaporkan, dalam laporan utama yang ditulis oleh Zvi Bar'el, disebutkan bahwa para pejabat Tel Aviv terlalu mengentengkan serangan ke Iran dan sebelum Israel memproklamirkan diri sebagai kekuatan superior di hadapan Iran, rezim Zionis harus menggelar referendum.
 
Artikel itu dimulai dengan ungkapan, "Jika ada tuntutan untuk menghancurkan kemampuan nuklir Iran, kami akan melakukan segala upaya untuk mencegah kerugian di pihak sipil. Apakah ini pernyataan Menteri Pertahanan Ehud Barak? Atau komentar Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam pertemuan dengan Presiden AS Barack Obama?"
 
Sebenarnya, ungkapan itu diucapkan pada tahun 2003 oleh mantan menteri pertahanan Israel Shaul Mofaz dalam wawancaranya dengan Radio Israel berbahasa Persia. Menhan Iran kala itu memperingatkan bahwa jika Israel menyerang Iran, maka Tehran akan merespon dengan Shahab, rudal yang dikembangkan khusus membalas serangan rudal Jericho Israel.
 
Tiga tahun kemudian, para pejabat senior Departemen Pertahanan Israel terbang ke Amerika Serikat untuk mengecek jet tempur siluman F-35 yang akan dibeli Tel Aviv.
 
Sekitar satu setengah tahun lalu, Barak menyetujui kesepakatan pembelian jet tempur itu, dengan harga selangit. Akan tetapi pesawat canggih itu "akan mempertahankan superioritas Israel di udara," sebagaimana yang dikatakan Barak, dan "bahkan mungkin dalam menyerang Iran."
 
Pesanan jet tempur siluman F-35 itu akan diterima Israel pada tahun 2016 atau 2018. Jika program nuklir Iran dijadikan alasan untuk membeli pesawat super canggih itu, mengapa Mofaz mengungkapkan kemungkinan serangan terhadap Iran tahun lalu, ketika Israel belum memiliki pesawat? Lalu apa makna dari ungkapan soal kemampuan Israel menyerang Iran, dan keseriusan para pejabat Israel dalam menyatakan kemampuan militer Zionis menyerang Republik Islam?
 
Haaretz menjelaskan bahwa pernyataan Mofaz itu menunjukkan bahwa sekitar 10 tahun lalu, Israel siap dan mampu menyerang Iran, lalu mengapa mereka ragu melancarkan serangannya? Apakah ancaman Iran tidak terlalu besar? Bukankah pada tahun 2003 Meir Dagan, ketua Dinas Rahasia Israel (Mossad) kala itu, kepada Knesset menyatakan bahwa program nuklir Iran merupakan ancaman terbesar bagi rezim Zionis?
 
Para pejabat Israel sedemikian mengentengkan serangan ke Iran seperti semudah ungkapan "kita menyerang, lalu pulang". Bahkan mereka berusaha meyakinkan bahwa tanpa bantuan pesawat F-35 pun, Israel dapat menyerang iran dan kurang dari 500 warga sipil yang akan tewas dalam serangan tersebut. Mereka berusaha keras meyakinkan warga Israel bahwa rudal-rudal Shahab Iran tidak lebih dari "mainan".
 
Haaretz di akhir laporan itu menegaskan, "Daripada diminta untuk meyakini bahwa Israel kuat dan digdaya, lebih baik Israel menggelar referendum untuk rencana serangan ke Iran. Kita mungkin akan terkejut betapa kemuakan atas kebohongan-kebohongan akan membuat kita lebih bijaksana". (IRIB Indonesia/MZ/NA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar