Minggu, 04 Maret 2012

Pembakaran Al-Quran Bukti Nyata Islamphobia Barat


Beberapa waktu lalu, dunia menyaksikan protes luas rakyat Afghanistan di Kabul dan berbagai kota lainya. Kemarahan warga mencapai titik puncaknya setelah muncul berita bahwa tentara Amerika Serikat telah membakar kitab suci al-Quran. Sedikitnya 30 orang tewas dalam tiga hari protes terhadap penodaan itu, dua dari mereka di luar Pangkalan Udara Bagram, pangkalan utama militer AS di negara itu. Protes dimulai di Provinsi Parwan, tapi segera menyebar ke daerah lain, mendorong AS untuk meliburkan kedutaannya dan mengevakuasi staf-stafnya.
 
Sekitar 2.000 warga Afghanistan menggelar protes di luar Pangkalan Udara Bagram, meneriakkan slogan-slogan "Matilah Amerika," serta melemparkan batu dan bom molotov di pangkalan. "Matilah Amerika" dan "Kematian bagi Barack Obama" juga bergema di tempat lain, termasuk Kabul, Jalalabad, Logar, Uruzgan, Faryab, Baghlan dan Laghman. Para pengunjuk rasa mengepung pangkalan, menuntut para pelaku utama diadili dan pasukan asing diusir dari Afghanistan. Tragisnya, aksi itu ditanggapi dengan sebuah rentetan peluru dan pertumpahan darah. Pangkalan Udara Bagram telah menjadi simbol kebencian masyarakat terhadap pendudukan pimpinan AS.
 
Menteri Pertahanan AS Leon Panetta dan kemudian Presiden Barack Obama mengeluarkan permintaan maaf atas kasus itu dalam upaya untuk menenangkan situasi. Namun berbeda dengan harapan mereka, permintaan maaf gagal untuk mendinginkan kemarahan rakyat. Rakyat Afghanistan yang marah juga membakar bagian dari sebuah kompleks perumahan yang digunakan oleh kontraktor asing di Kabul.
 
Pembakaran al-Quran telah menjadi bencana lain dalam hubungan masyarakat dengan Washington. Ini merupakan peristiwa terbaru dalam serangkaian tindakan keji tentara AS yang membuat marah rakyat Afghanistan. Pada pertengahan Januari 2012, sebuah video juga memperlihatkan tindakan keji tentara AS yang mengencingi mayat-mayat pejuang Afghanistan. Ajaran Islam menghormati mayat, tidak hanya Muslim tapi juga non-Muslim dan menganggap pelecehan terhadap mereka sebagai kejahatan serius.Tindakan provokatif seperti itu menunjukkan ketidakpedulian AS terhadap keyakinan dan nilai-nilai yang dianut oleh rakyat Afghanistan dan bahkan umat Islam dunia. Insiden ini jelas menandakan kegagalan besar Gedung Putih dan PR bagi militer AS yang ingin menarik simpati rakyat atas pendudukan.  
 
AS selalu mengklaim dirinya sebagai pembela hak asasi manusia dan demokrasi. Mereka mengedepankan nilai-nilai universal selama negara lain tidak mematuhi kebijakan Washington. Sekutu-sekutu Washington dalam beberapa dekade terakhir, seperti Shah Iran, diktator militer Chile, Irak, atau penguasa Yaman, Tunisia, dan Mesir, atau bahkan raja-raja di Arab Saudi dan Bahrain mendapat dukungan dan pembelaan dari AS meskipun tidak mengindahkan isu HAM dan prinsip-prinsip demokrasi.
 
Meski pembakaran kitab suci al-Quran merupakan perbuatan yang tercela dan mendapat kecaman dari seluruh umat Islam. Namun aksi itu bukan peristiwa yang pertama. Sejak zaman Jahiliyah hingga kini, pasukan kebatilan terus berupaya melenyapkan kebenaran. Sebagai contoh, untuk memadamkan dakwah Nabi Ibrahim as, mereka menyalakan api dan penuh kebencian melemparkan beliau ke dalamnya. Di masa lain, musuh-musuh kebenaran berupaya menghapus tauhid dan ajaran Tuhan dengan menempuh berbagai cara, di antaranya, mengerahkan pasukan gajah dan menyerang Kabah, sehingga mereka terkenal dengan "tentara gajah". Orang-orang kafir di masa Nabi Muhammad Saw menuduh beliau sebagai tukang sihir dan gila. Mereka juga menutup telinga supaya tidak mendengar bacaan ayat-ayat suci al-Quran.
 
Meskipun penghinaan dan penistaan terhadap kesucian al-Quran, kepribadian Nabi Muhammad Saw dan kemuliaan-kemuliaan Islam lainnya terjadi pada masa sekarang, namun sebenarnya aksi itu adalah kegiatan rutin yang dilakukan musuh-musuh kebenaran sejak zaman Jahiliyah. Penistaan itu ditempuh dengan berbagai cara, di antaranya, seperti yang dilakukan Salman Rushdie dengan bukunya yang berjudul "Ayat-ayat Setan"  atau dengan ceramah, pembuatan film anti-Islam, artikel, dan karikatur penghinaan Islam, serta cara-cara lainnya, dimana yang terbaru adalah pembakaran al-Quran di Afghanistan.
 
Sejarah menunjukkan bahwa aksi-aksi penistaan yang terjadi akibat kebodohan dan dilakukan dengan kemarahan, selalu berdampak sebaliknya. Pembakaran terhadap Nabi Ibrahim as oleh kaum kafir, justru menyebabkan imannya masyarakat di masa itu. Tentara gajah tidak berhasil menghancurkan Kabah dan justru sebaliknya, selama berabad-abad Kabah tetap berdiri tegak dan menjadi tempat ziarah jutaan umat Islam. Kenyataan ini menunjukkan bahwa Barat telah menemui jalan buntu untuk menghancurkan Islam, walaupun saat ini mereka tetap melanjutkan kebijakan Islamphobianya.
 
Beberapa tahun ini, Barat terus meningkatkan sikap-sikap irasionalnya untuk mencegah perkembangan Islam, namun sikap seperti ini justru berdampak sebaliknya, Islam semakin berkembang dan pemeluknya semakin bertambah. Sadar atau tidak langkah-langkah mereka sama dengan apa yang dilakukan orang-orang di zaman Jahiliyah, karena pembakaran al-Quran mirip dengan apa yang dilakukan orang-orang di masa itu. Aksi seperti ini sudah tidak tepat lagi dilakukan, apalagi pada masa sekarang, dimana menurut HAM dunia, semua manusia dengan berbagai keyakinannya adalah sama dan tanpa melihat perbedaan ras, suku dan aliran, keyakinan mereka harus dihormati.
 
Negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat mengaku sebagai pembela kebebasan dan demokrasi. Secara lahiriyah mereka menilai apa yang dijadikan dasar HAM dianggap sebagai tolok ukur perbuatan, dan atas dasar itu, mereka ingin negara-negara lain menghormati hak-hak warganya. Para pejabat Barat selalu mengklaim bahwa langkah-langkah mereka sesuai dengan HAM, namun kenyataan menunjukkan sebaliknya. Apa yang mereka lakukan tidak sesuai dengan klaim-klaimnya. Di Barat, pembakaran al-Quran merupakan pelanggaran besar dan lebih parah dari melanggar HAM, sebab aksi penistaan itu berarti telah menghina lebih dari 1,5 miliar umat Islam.
 
Anehnya, para politisi dan pemikir Barat malah memprotes pembakaran buku Ayat-ayat Setan di Inggris pada tahun 1988 dan menilai aksi itu sebagai gerakan yang mirip dengan gerakan pasukan Nazi yang membakar berbagai buku. Namun ketika kitab suci umat Islam dibakar, mereka hanya bungkam dan tidak mengecam aksi itu atau menyebutnya sebagai aksi yang mirip gerakan Nazi Jerman, walaupun semua orang memahami nilai al-Quran sebagai kitab suci lebih dari 1,5 miliar umat Islam yang tidak mungkin dibandingkan dengan buku penistaan yang ditulis Salman Rushdie.
 
Sebelum terjadinya pembakaran al-Quran di Afghanistan, aksi serupa telah dilakukan oleh seorang pendeta dari salah satu gereja di Florida yang bernama Terry Jones pada tanggal 11 september 2010. Terry Jones  menuduh Islam dan hukum syariah bertanggung jawab atas aksi terorisme terhadap World Trade Center (WTC) di New York pada tanggal 11 September 2001.
 
Sementara itu, lembaga survey terpercaya Amerika, Gallup menyatakan, adanya penyebaran ribuan artikel, buku, dan ratusan film dokumenter yang menjelaskan kronologi peristiwa 11 September, menunjukkan bahwa peristiwa itu telah di setting Zionis Amerika untuk mempengaruhi opini umum dunia, termasuk rakyat Amerika supaya merestui serangan ke Afghanistan, Irak dan kemungkinan ke Iran.
 
Amat menarik bahwa pada tahun 2005, empat tahun pasca peristiwa 11 September 2001, dua lembaga strategi Amerika "The American Enterprise Institute" dan "American Karangi Institute" dalam evaluasi yang terpisah, mengumumkan bahwa pasca peristiwa 11 September 2001, dimana Bush, mantan Presiden AS mengumumkan perang dan permusuhan terhadap umat Islam dan menyebutnya dengan perang salib, ketertarikan dan pengkajian terhadap al-Quran di antara warga di negara-negara Barat meningkat signifikan. Banyak pengkaji al-Quran yang kemudian memahami hakikat al-Quran berbeda dengan apa yang diklaim para pejabat dan media Amerika serta Zionis. Sehingga banyak dari mereka telah memeluk Islam. (IRIB Indonesia/RA/NA)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar